Selasa, 07 Juni 2011

Soleman Ngongo, Penerima Kalpataru yang Nyeker di Istana

Anwar Khumaini - detikNews
Jakarta - Sederhana. Itulah kesan yang terpancar dari wajah Soleman Ngongo, warga Desa Tematana, Kecamatan Wewena Timur, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Bahkan kala berada di Istana untuk menerima penghargaan Kalpataru, Soleman tidak memakai alas kaki alias 'nyeker'. Alasannya, takut Istana kotor.


"Saya tadi pakai sandal, tapi ditinggalkan di luar. Takut kotor. Lagipula tidak apa-apa saya begini, sudah biasa," kata Soleman saat ditemui wartawan usai penyerahan penghargaan Piala Adipura dan Kalpataru di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta, Selasa (7/6/2011).

Soleman mengaku telah 40 tahun mengabdi sebagai penjaga dan perawat 240 pintu air primer, 140 sekunder, dan 160 pintu air tersier. "Selama 40 tahun. Karena pernah Tuhan kita berdoa jadi Bapa kasih tanda istilahnya. Jadi bersyukur dan kita terima kasih," cerita Soleman dengan logat Sumba yang kental.

Berapa penghasilan Soleman sebulan dengan menjadi seorang penunggu pintu air? Anda mungkin tak percaya, pria sederhana ini cuma mendapatkan uang sebesar Rp 500 saja.

"Dulu saya mulai bekerja sejak zaman Pak Harto tahun 1980-an. Awalnya tanpa dibayar, lalu setelah beberapa bulan, baru dibayar Rp 500 per bulan," kisah Soleman dengan semangat.

Menjadi penjaga pintu air selama 40 tahun, Soleman mengaku ikhlas menjalankan tugasnya. Penghasilan yang tidak seberapa itu tak lantas membuatnya meninggalkan kegiatan tersebut, sebab tujuan utamanya adalah menjaga kelestarian alam saja. Dia menuturkan, hutan kini banyak yang ditebangi. Sehingga bersama dengan masyarakat lain, dia bergotong-royong untuk menanam pohon.

"Perlindungan alam saja, yang artinya kita kan penjaga air, penjaga air dulu masih hutan toh. Masih belum, hutan-hutan tidak ada, sebagian besar ditebang tebang masyarakat. Jadi kita usahakan berkumpul dengan masyarakat, kita gotong-royong menanam pohon. Sebelumnya kita tanam pakai anggaran sendiri 5-6 orang," ungkap pria berkulit gelap ini.

Mendapatkan penghargaan Kalpataru dan bisa bertemu langsung dengan Presiden, bukan tujuan utama Soleman menekuni pekerjaannya. Namun kunjungannya ke Jakarta kali ini menjadi hari yang membahagiakan baginya, dan dia pun sangat bersyukur.

"Saya tidak pernah bekerja dengan tujuan untuk bertemu Presiden. Kalaupun dapat bertemu hari ini, saya syukuri sebagai anugerah dari Tuhan. Tapi masih banyak lagi yang harus dilakukan, mudah-mudahan bisa dilanjutkan juga oleh masyarakat dan penerus saya nanti," harap Soleman.

Selain Soleman, ada sekitar 10 orang lainnya yang juga mendapatkan Piala Kalpataru. Dalam kesempatan yang sama, Presiden SBY juga menyerahkan 63 Piala Adipura kepada kabupaten/ kota yang dianggap sebagai kota yang bersih dan ramah lingkungan.
(anw/vit)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar